Bukan Cuma IHSG, Ini Penyebab Pasar Saham Anjlok Berjamaah

Uncategorized203 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Aksi jual di pasar Asia masih berlanjut hingga hari Senin karena kekhawatiran konflik regional di Timur Tengah meluas dan era suku bunga tinggi di AS yang akan berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Mengutip Agence France-Presse (AFP), para investor cenderung mencermati konflik Timur Tengah. Ketidakpastian yang disebabkan oleh krisis ini,telah membuat aset-aset berisiko jatuh.

Saat ini  fokus utama adalah bantuan kemanusiaan dan pembebasan sandera. Hal itu menunjukkan bahwa risiko invasi darat dari Israel dapat menunggu.

“Hal itu mungkin mengandung risiko eskalasi lebih lanjut, setidaknya untuk saat ini,” kata Yeap Jun Rong, analis IG Asia.

Adapun para pedagang ekuitas memperpanjang aksi jual. Hal ini menyebabkan bursa di AS, Tokyo, Sydney, Seoul, Shanghai, Singapura, Taipei, Mumbai, Manila, dan Jakarta berada di zona merah, sedangkan Hong Kong libur.

Pada saat yang sama, bursa di London merosot pada pembukaan pasar, sedangkan Paris dan Frankfurt naik tipis.

“Peristiwa-peristiwa di akhir pekan telah memberikan beberapa harapan kompromi dengan dibebaskannya dua sandera Israel, dan dimulainya beberapa konvoi bantuan ke Gaza, yang mendorong sedikit pelemahan pada harga minyak mentah dan emas,” kata analis CMC Markets, Michael Hewson.

Akan tetapi baku tembak antara Israel dengan Hamas masih berlanjut dan meningkatkan level kekhawatiran.

Ketidakpastian tersebut membuat dolar menguat terhadap mata uang negara lain. Di Jepang, dolar AS sempat menembus 150 yen dan mengakibatkan pembicaraan mengenai intervensi dari Bank Sentral negara tersebut guna menjaga stabilitas nilai tukar. 

Namun, para pengamat mengatakan bahwa meskipun Bank of Japan dapat mengubah kebijakan moneter ultra-longgarnya, yen akan tetap berada di bawah tekanan karena kenaikan biaya pinjaman the Fed.

Baca Juga  Jalan Berliku Penerapan Energi Baru Terbarukan

Terpisah, the Fed memperingatkan pada hari Jumat lalu bahwa ketegangan geopolitik terutama di Timur Tengah dan Ukraina dapat mendorong inflasi kembali naik dan melukai ekonomi global.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Koreksi Tajam, 5 Saham Ini Jadi Beban

(mkh/mkh)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *