Eropa Ikuti The Fed Tahan Suku Bunga, Minyak Melonjak 3%

Uncategorized90 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia kompak dibuka lebih tinggi pada perdagangan pagi hari ini, melanjutkan kenaikan pada perdagangan sebelumnya karena peningkatan permintaan IEA dan melemahnya dolar AS.

Pada pembukaan perdagangan hari ini Jumat (15/12/2023), harga minyak mentah WTI dibuka menguat 0,04% di posisi US$ 71,61 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent dibuka lebih tinggi atau naik 0,07% ke posisi US$ 76,66 per barel.


Pada perdagangan Kamis (14/12/2023), harga minyak mentah WTI ditutup melonjak 3,04% di posisi US$71,58 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent ditutup melesat 3,16% ke posisi US$76,61 per barel.

Harga minyak naik 3% pada perdagangan Kamis, memperpanjang kenaikan sesi sebelumnya, didorong oleh melemahnya dolar dan Badan Energi Internasional (IEA) menaikkan perkiraan permintaan minyak untuk tahun depan.

Adapun konsumsi minyak dunia akan meningkat sebesar 1,1 juta barel per hari (bpd) pada tahun 2024, menurut IEA dalam laporan bulanan, naik 130.000 barel per hari dari perkiraan sebelumnya, mengutip perbaikan prospek AS dan harga minyak yang lebih rendah.

Perkiraan tahun 2024 ini kurang dari setengah perkiraan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Harga juga mendapat dorongan karena dolar melemah setelah The Federal Reserve AS pada Rabu mengisyaratkan biaya pinjaman yang lebih rendah untuk tahun 2024.

Dolar jatuh ke level terendah dalam empat bulan pada hari Kamis setelah bank sentral AS mengindikasikan kenaikan suku bunga kemungkinan akan berakhir dan biaya pinjaman yang lebih rendah akan terjadi pada tahun 2024. Pada perdagangan Kamis (14/12/2023) indeks dolar AS jatuh 0,89% di level 101,96.

Baca Juga  Saham Jeblok 79% Sejak IPO, Emiten Ini Dicaplok Investor Baru

“Tentu saja sentimen terhadap minyak telah berubah secara dramatis. Salah satu katalis utama yang mengguncang volatilitas pasar adalah The Federal Reserve,” ujar Phil Flynn, analis Price Futures Group, dilansir dari Reuters.

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya pinjaman konsumen, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak. Melemahnya dolar membuat harga minyak lebih murah bagi pembeli asing.

Dalam perkembangan terpisah, Bank Sentral Eropa menolak spekulasi penurunan suku bunga pada hari Kamis dengan menegaskan kembali bahwa biaya pinjaman akan tetap pada rekor tertinggi meskipun ekspektasi inflasi lebih rendah.

Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk menahan suku bunga. Suku bunga utama ECB pada operasi refinancing utama dan suku bunga pada fasilitas pinjaman marjinal dan fasilitas simpanan akan tetap tidak berubah pada masing-masing 4,50%, 4,75% dan 4,00%.

Investor minyak akan memasuki tahun 2024 dengan kekhawatiran yang semakin besar mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kelebihan pasokan, sementara ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dapat memicu volatilitas harga.

Patokan harga Brent rata-rata sekitar US$80 per barel tahun ini. Survei Reuters terhadap 30 perkiraan ekonom dan analis menunjukkan minyak mentah Brent rata-rata US$84,43 per barel pada tahun 2024.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Harga Minyak Melonjak Lagi Jelang Pertemuan OPEC

(saw/saw)


Baca Juga  Tampil di JMFW Shireen Sungkar Highlight Busana Tak Perlu Setrika

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *