Harga Minyak Melonjak Lagi Jelang Pertemuan OPEC

Uncategorized112 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia dibuka beragam pada perdagangan hari ini Selasa (21/11/2023) setelah melonjak 2% seiring perkiraan pemotongan OPEC.

Harga minyak mentah WTI dibuka naik 0,13% di posisi US$77,7 per barel, sementara minyak mentah brent dibuka melemah 0,23% ke posisi US$82,13 per barel.


Pada perdagangan Senin (20/11/2023), harga minyak mentah WTI ditutup melesat 2,24% di posisi US$77,6 per barel, begitu juga dengan minyak mentah brent ditutup meroket 2,12% ke posisi US$82,32 per barel.

Harga minyak naik lebih dari 2% pada perdagangan Senin karena pengurangan pasokan lebih lanjut, dalam produksi OPEC+ diperkirakan akan diumumkan setelah pertemuan negara-negara anggota awal pekan depan.

Kedua harga minyak acuan tersebut telah jatuh selama empat minggu berturut-turut, namun mulai pulih pada hari Jumat, menetap 4% lebih tinggi karena aksi taking profit dan setelah tiga sumber OPEC+ mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok produsen, yang terdiri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, akan mempertimbangkan apakah akan melakukan pengurangan pasokan tambahan ketika bertemu pada 26 November mendatang.

“Komentar OPEC yang mengisyaratkan pemotongan lebih lanjut terjadi tepat pada waktunya,” ucap John Kilduff, mitra Again Capital LLC. “Saya perkirakan pengurangan apa pun tidak akan terlalu besar. Arab Saudi telah memangkas begitu banyak produksi, saya tidak tahu berapa banyak lagi yang bisa mereka lakukan.”

Goldman Sachs mengatakan bahwa berdasarkan model statistik keputusan OPEC, pemotongan yang lebih besar tidak boleh dikesampingkan mengingat penurunan posisi spekulatif dan rentang waktu, serta persediaan yang lebih tinggi dari perkiraan.

Baca Juga  Paparkan Visi Politik Luar Negeri RI, Prabowo Sebut Rusia, India, dan Negara-negara Islam

Harga minyak telah turun hampir 20% sejak akhir September 2023 karena produksi minyak mentah di AS, produsen utama dunia, berada pada rekor tertinggi, sementara pasar mengkhawatirkan pertumbuhan permintaan, terutama dari China, importir minyak nomor satu.

Pekan lalu, selisih antar bulan untuk Brent dan WTI merosot ke contango, dimana harga minyak mentah lebih murah dibandingkan bulan-bulan mendatang, hal ini menandakan adanya pasokan yang cukup.

Para pelaku pasar juga mengamati tanda-tanda kehancuran permintaan akibat kemungkinan resesi AS pada tahun 2024 dan juga mempertimbangkan peringatan minggu lalu tentang kemungkinan deflasi dari Walmart (WMT.N), pengecer terbesar di AS.

Namun yang terpenting, para pelaku pasar kini sedang menunggu pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada hari Minggu.

Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates, mengatakan para anggotanya akan fokus pada pasokan dan permintaan dan tidak menggunakan minyak mentah sebagai senjata melawan AS, yang mendukung Israel dalam perang tujuh minggu melawan Hamas.

“Beberapa negara khawatir perang ini akan meluas ke konflik regional,” ujar Lipow. “Mereka ingin melihat minyak mereka terus mengalir.”

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Minyak Dunia Ambles 4%, Turun 3 Hari Beruntun

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *