Ini Alasan Bank Kompak Jadi Pembeli Perdana di Bursa Karbon

Uncategorized172 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah resmi meresmikan Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon) pada Selasa (26/9/2023). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mendorong setiap stakeholders untuk mendukung jalannya bursa karbon nanti.

Dengan adanya bursa karbon ini, OJK berharap dapat mengembangkan regulasi kebijakan hijau untuk mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan. Tentunya, pembuatan kebijakan ini ditempuh melalui kerja sama dengan para pemangku kepentingan, salah satunya perbankan.

Perusahaan perbankan pun ramai-ramai menjadi pembeli pertama dalam perdagangan perdana bursa karbon. Mereka adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT BNI Sekuritas, dan PT BRI Danareksa Sekuritas yang merupakan bagian dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).

Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan tujuan bank-bank tersebut membeli Unit Karbon agar mendapat label sebagai green bank yang berkomitmen menyalurkan pembiayaan berkelanjutan.

“Salah satunya untuk melabelkan bahwa bank ini green perlu membeli Unit Karbon yang ada,” katanya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Selasa (26/9/2023).

CIMB Niaga tercatat sebagai pembeli pertama unit karbon dalam peluncuran kemarin. Menurut Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga Fransiska Oei, partisipasi aktif CIMB Niaga sebagai pembeli unit karbon dalam peluncuran IDX Carbon merupakan bagian dari strategi Bank untuk mencapai Net Zero pada 2050.

Selain itu juga sebagai dukungan terhadap program dekarbonisasi yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagaimana tertuang dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) Indonesia.

“CIMB Niaga telah memiliki komitmen emisi nol bersih gas rumah kaca (GRK) Cakupan 1 dan 2 pada tahun 2030, serta terhadap emisi nol bersih GRK secara keseluruhan (Cakupan 1, 2, dan 3) pada 2050. Hal ini dilakukan untuk mendukung pencapaian penurunan emisi GRK Indonesia dan global serta peningkatan kinerja lingkungan Bank,” kata Fransiska dalam keterangannya, Rabu (26/9/2023).

Baca Juga  Begini Cara Menggunakan QRIS di Semua Negara Terdaftar

Sementara itu, bank pelat merah BRI sebelumnya menyatakan mendukung penuh kebijakan bursa karbon dalam rangka mendukung pencapaian target ENDC Indonesia. Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menjelaskan dukungan penuh tersebut diwujudkan dengan men-support portofolio pembiayaan dalam mengelola emisinya dan mendorong portfolio untuk mengambil bagian dalam bursa karbon.

“BRI bakal melakukan pembelian carbon credit ketika science based net zero emission target BRI telah tercapai dan masih terdapat residual carbon footprint yang tidak dapat lagi dieliminasi karena limitasi teknologi, infrastuktur, faktor ekonomi, dan alasan lainnya,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Minggu (20/8/2023) lalu.

Bank pelat merah Bank Mandiri juga menyatakan akan berperan aktif dalam perdagangan karbon, dalam komitmen bank mendukung ekonomi hijau. Direktur Manajemen Risiko BMRI Ahmad Siddik Badruddin menyampaikan kepada CNBC Indonesia bahwa pihaknya siap dan akan mendukung perdagangan karbon agar Indonesia dapat mencapai NZE nasional tahun 2060.

Dalam mendukung hal ini, Siddik menyampaikan Bank Mandiri secara konsisten berupaya mendorong implementasi aspek Environmental, Social & Governance (ESG) dan praktik Keuangan Berkelanjutan. Selain itu, Wakil Direktur Utama Alexandra Askandar pada paparan kinerja semester I-2023, menyatakan bahwa menyatakan akan berkomitmen mengurangi eksposur kredit sektor non ramah lingkungan, termasuk tambang batu bara, secara bertahap.

Senada, bank pelat merah BNI yang juga membatasi kredit ke sektor tambang. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan bursa karbon, hal utama yang diupayakan bank adalah terus meningkatkan pembiayaan hijau.

“Terkait bursa karbon, hal utama yang kami upayakan adalah terus meningkatkan pembiayaan hijau, penghematan energi dan program penghijauan/konservasi hutan di setiap program dan bisnis kami,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, (18/8/2023) lalu.

Baca Juga  Pakai Parfum Khusus untuk Miss V yang Viral di Korea Selatan? Ini Faktanya

Selanjutnya, BCA menyatakan akan senantiasa berkoordinasi secara internal maupun dengan pemangku kepentingan terkait dengan penerapan regulasi terkait bursa karbon. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan setiap kebijakan dan kegiatan operasional pihaknya, senantiasa didasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, serta menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).

Untuk diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi efek di perdagangan perdana Bursa Karbon, Selasa (26/9/2023) sebesar Rp 29,2 miliar. Menurut laporan Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik kepada wartawan, nilai tersebut mencakup total volume perdagangan karbon sebesar 459.953 ton CO2. Adapun total transaksi hariannya mencakup 27 transaksi.

Tidak hanya bank, perusahaan lain yang turut menjadi pembeli pada perdagangan karbon perdana adalah PT CarbonX Bumi Harmoni, PT MMS Group Indonesia, PT Multi Optimal Riset dan Edukasi, PT Pamapersada Nusantara, PT Pelita Air Service, PT Pertamina Hulu Energi, dan PT Pertamina Patra Niaga.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


2025 Seluruh PLTU Masuk Bursa Karbon, Kiamat Batu Bara Nyata?

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *