Kisah Raja Rokok RI Ganti Nama Perusahaan Gegara Mimpi

Uncategorized74 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Bentoel menjadi salah satu dari tiga pemain utama industri rokok Indonesia di era 1970-an. Perusahaan berbasis Malang tersebut berdiri dengan nama PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel.

Untuk mencapai kejayaan, tentunya Bentoel melewati jalan panjang. Salah satu kuncinya digadang-gadang berasal dari mimpi sang pendiri.

Pendiri Bentoel, Ong Hok Liong, lahir di desa Karang Pacar, Bojonegoro, pada 12 Agustus 1893. Sejak era 1930-an, Ong Hok Liong bersama Tjoa Sioe Bian mendirikan pabrik rokok di Malang.

“Awalnya, perusahaan ini bernama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong. Kemudian nama itu diubah menjadi Hien An Kongsie,” tulis Rudy Badil dalam Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya (2011:107).

Pabrik itu awalnya memproduksi rokok tjap Burung, tjap Klabang, dan Djeroek Manis. Baru pada 1954 perusahaan berubah nama menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel.

Sejak penggantian nama, usaha rokok Ong Hok Liong dilaporkan berkembang cepat. Karyawannya mencapai 3.000 orang sebelum memasuki era 1960-an.

Bentoel tak ragu berpromosi. Dalam iklannya, tertulis: memang betul merokok tjap Bentoel. Transformasi nama menjadi Bentoel rupanya melalui proses yang unik.

Ini bermula ketika Ong Hok Liong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat ubi talas saat sedang berziarah. Setelah bangun, dia bertanya kepada juru kunci makam tentang mimpinya.

Juru makam berkata bahwa Ong Hok Liong dapat petunjuk dari Mbah Djugo agar mengganti nama pabriknya.

Ong Hok Liong memang seorang yang suka berziarah. George Quinn dalam Bandit Saints of Java (2019) menyebut pada 1954 Ong Hok Liong berziarah ke makam keramat Mbah Djugo di sekitar Gunung Kawi.

Baca Juga  Simak Bunga KPR BTN, BRI, BNI, Bank Mandiri, dan BCA per Januari

Kala itu merek rokok yang dibuatnya dirasa masih kurang laku. Pabriknya kemudian mengganti merek rokoknya juga. Nama yang dipilih adalah sebutan Jawa untuk ubi talas, yakni bentul, yang sebelum ada Ejaan Yang Disempurnakan (1973) masih sering ditulis sebagai ‘bentoel’.

“Ketika dia (Ong Hok Liong) meninggal pada tahun 1967, dia adalah seorang multi jutawan dan Bentoel telah tumbuh menjadi rokok pribumi terbesar kedua di Indonesia,” tulis George Quinn dalam Bandit Saints of Java (2019).

Anak-anak Ong Hok Liong lalu menggantikannya. Budhiwijaya Kusumanegara, anak sang pendiri menjadi Presiden Direktur Bentoel.

Namun, setelah 1980-an, PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel tidak mampu membayar pinjamannya ke BRI dan Bank Bumi Daya senilai US$ 170 juta. Utang Bentoel dengan kreditor asing bahkan kemudian menggelembung menjadi US$ 350 juta.

Akhirnya 70% saham keluarga Ong Hok Liong dilego. Hutomo Mandala Putra gagal membelinya. Kemudian Bentoel dipegang Peter Sondakh dan Rajawali Wira Bhakti Utama.

Pada tahun 1997, aset Bentoel diserahkan kepada perusahaan baru bernama PT Bentoel Prima dan PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel bubar.

Bentoel Prima pada tahun 2000 ganti nama menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Belakangan saham perusahaan itu dipegang oleh British American Tobacco, sebagai pemegang saham 92,48% dan sisa saham lain dipegang oleh masyarakat.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Cerita Runtuhnya Kerajaan Bisnis Salim Usai Berjaya 3 Dekade

(fab/fab)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *