The Fed Mengecewakan Pasar Lagi, Bursa Asia Dibuka Merana

Uncategorized103 Dilihat

Jakarta, CNBC IndonesiaMayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Jumat (10/11/2023), di tengah suasana suram yang terjadi di pasar saham Amerika Serikat (AS) semalam.

Per pukul 08:31 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,83%, Hang Seng Hong Kong ambles 1,16%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,37%, Straits Times Singapura terpangkas 0,74%, ASX 200 Australia terdepresiasi 0,56%, dan KOSPI Korea Selatan tergelincir 0,87%.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah terjadi di tengah terkoreksinya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kemarin, karena investor cenderung kecewa dengan pernyataan Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutupmelemah 0,65%, S&P 500 terkoreksi 0,81%, dan Nasdaq Composite merosot 0,94%.

Wall Street mulai terkoreksi setelah beberapa hari sebelumnya menguat. Aksi profit taking investor mulai terjadi di Wall Street kemarin.

Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali melonjak dan membuat saham-saham di AS kembali merana.

Yield Treasury acuan tenor 10 tahun naik lebih dari 12 basis poin (bp) menjadi 4,634%. Lemahnya lelang Treasury AS di awal sesi tidak membantu situasi.

Kenaikan yield Treasury dan merananya saham-saham di AS terjadi setelah Powell mengindikasikan bahwa upaya lebih lanjut mungkin perlu dilakukan untuk menurunkan inflasi, meskipun perlambatan laju inflasi baru-baru ini merupakan tanda yang menggembirakan bagi para pembuat kebijakan.

Powell berbicara pada Konferensi Riset Tahunan Jacques Polak ke-24 di Washington, DC pada panel yang mengeksplorasi tantangan moneter dalam perekonomian global.

Panelis yang bergabung dengan Powell termasuk Gita Gopinath, wakil direktur pelaksana pertama di IMF; Kenneth Rogoff, ketua ekonomi internasional Maurits C. Boas di Universitas Harvard, dan Amir Yaron, gubernur Bank Israel.

Baca Juga  Asuransi BUMN Hingga Swasta Ramai-Ramai Tinggalkan Unit Link

Dalam acara tersebut, Powell mengatakan bahwa ia dan rekan-rekan pembuat kebijakannya terdorong oleh melambatnya laju inflasi namun tidak yakin apakah mereka telah berbuat cukup untuk menjaga momentum tersebut.

Lebih dari seminggu setelah The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil, Powell mengatakan dalam pidatonya di hadapan Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington DC, bahwa masih banyak upaya yang perlu dilakukan dalam upaya melawan tingginya harga minyak.

“Komite Pasar Terbuka Federal berkomitmen untuk mencapai kebijakan moneter yang cukup ketat untuk menurunkan inflasi hingga 2% seiring berjalannya waktu; kami tidak yakin bahwa kami telah mencapai sikap seperti itu,” kata Powell dalam sambutannya di acara Dana Moneter Internasional, dikutip dariCNBC International.

Pidato tersebut Powell sampaikan ketika inflasi masih jauh di atas target jangka panjang The Fed meskipun sudah jauh di bawah tingkat puncaknya pada paruh pertama tahun 2022 yang sempat menyentuh level 9,1% (yoy) pada Juni 2022.

Sebagai informasi, dalam serangkaian 11 kenaikan suku bunga yang merupakan pengetatan kebijakan paling agresif sejak awal tahun 1980an, komite mengambil keputusan suku bunga acuannya dari mendekati nol pada Februari 2022 hingga naik ke kisaran kisaran target 5,25-5,50% pada November 2023.

Akibatnya, pasar yang sebelumnya sempat memprediksi The Fed akan kembali menahan suku bunga acuannya pada pertemuan Desember mendatang, akhirnya cenderung berubah pikiran menjadi ada kenaikan di pertemuan Desember.

Berdasarkan perangkat CME Fedwatch, 14,5% pelaku pasar meyakini bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan Desember 2023. Hal ini lebih tinggi dari hari sebelumnya yang hanya sebesar 9,6%.

Baca Juga  Orang Tua Komplen Menu Pencegahan Stunting, Eh Anaknya Langsung Tidak Diikutsertakan

Sementara pada Januari 2024, persentase pelaku pasar lebih tinggi yakni 23,3% yang meyakini bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya menjadi 5,50%-5,75%.

Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan Desember, maka hal ini sesuai dengan prediksi awal pasar sebelumnya, di mana ada satu kali lagi ruang The Fed menaikkan suku bunga acuannya di sisa tahun ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Inflasi AS Turun Lagi, Bursa Asia Dibuka Bergairah

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *